Bukit Menoreh dan Banjir yang Tidak Pernah Bosan Datang
Bukit Menoreh rupanya punya kebiasaan yang sulit dihilangkan. Setiap hujan deras turun, air ikut-ikutan turun tanpa diundang.
Di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo, banjir bukan lagi tamu musiman, melainkan langganan tetap yang rajin datang empat tahun terakhir.
Anggota Komisi III DPRD Kulon Progo, Tukijan, sampai angkat suara. Bukan karena kaget—justru karena terlalu sering melihat pola yang sama.
Hujan lebat, air meluap, warga kebanjiran, lalu semua kembali normal sampai hujan berikutnya datang.
Komisi III DPRD Kulon Progo sebenarnya sudah beberapa kali turun langsung ke lapangan. Bersama BPBD dan Bidang Sumber Daya Air DPUPKP, mereka meninjau titik-titik rawan banjir, termasuk kawasan Hargorejo.
Hasilnya juga bukan temuan baru. Anak sungai dangkal, talud jebol, dan aliran air yang kehilangan arah.
Solusinya pun terdengar klasik tapi masuk akal, normalisasi sungai dan pembangunan talud. Masalahnya, kewenangan ada di Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
Dan di sinilah cerita mulai terasa berputar di tempat.
Menurut Tukijan, proposal penanganan banjir sudah diserahkan, audiensi sudah dilakukan, bahkan permohonan penanganan sudah diajukan berulang kali.
Namun, sampai sekarang, tindak lanjutnya belum juga terlihat.
"Empat tahun terakhir Hargorejo ini jadi langganan banjir. Proposal sudah kami sampaikan. Harapannya, ada penanganan khusus, bukan sekadar catatan rapat," katanya.
Di tingkat bawah, dampaknya terasa lebih konkret. Dukuh Kriyan, Novi Nurkhasanah, mencatat sedikitnya 20 kepala keluarga terdampak setiap kali hujan turun dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Anak Kali Pening yang dangkal dan talud yang jebol membuat air tak punya pilihan selain meluap ke permukiman.
Situasi makin rumit karena Hargorejo menjadi titik kumpul limpahan air dari beberapa padukuhan sekitar, Kliripan, Selo Timur, Kriyan, hingga Kulur.
Bisa dibilang, Hargorejo kebagian bonus air dari mana-mana.
Warga pun berharap ada koordinasi yang lebih serius antara Pemkab Kulon Progo dan BBWSSO. Bukan sekadar janji atau proposal yang menumpuk di meja, tapi pekerjaan nyata di lapangan.
Sebab, bagi warga Hargorejo, banjir bukan lagi soal cuaca. Ini soal apakah negara benar-benar hadir, atau hanya rajin datang saat foto dokumentasi.






